Setelah sekian lama berusaha, akhirnya aku bisa merasakan memek adikku. Yah, dia bukan adik secara biologi, kami bertemu di kampus, yang mana dia adalah juniorku. Kedekatan kami terjadi secara perlahan lahan, namun itu merupakan strategiku. Dia tertari kepadaku, seniornya, justru karena aku bersikap biasa saja kepadanya, sementara senior-senior yang lain atau teman seangkatannya mengejarnya dengan menggebu-gebu.
Namun dia tidak tahu saja, sebenarnya akupun sama dengan mereka mereka yang mengejar-ngejarnya. Hanya saja aku menerapkan strategi sementara para lelaki itu, mengejarnya dengan tanpa perhitungan yang matang, terburu-buru yang justru begitu nafsu menunjukan pada dia betul bahwa mereka hanya menginginkan memek adikku, yang sudah barang tentu membuatnya jijik. Namun aku dinilainya berbeda, padahal aku dengan para lelaki itu menginkan hal yang sama.
Adikku itu berwajah cantik, ber-body sexy, kulit putih mulus, benar benar membuat setiap lelaki panas dingin dan membuat iri para wanita lainnya. Suaranya saja yang serak serak sexy bisa bikin para lelaki buru buru ke kamar mandi. Aku pun sebenarnya sudah sangat tak tahan, namun demi tercapainya target, aku bersabar, untuk demi mendapatkan memek adikku.
Memek adikku, itulah yang selalu ada dalam pikiranku pada waktu itu. Sebenarnya aku sudah sangat khawatir, meski aku sudah bersikap biasa saja berusaha berbeda dari para lelaki lain, namun sikapnya kepadaku pun tetap biasa. Sampai pada akhirnya kesabaranku membuahkan hasil, dia kesulitan dalam salah satu mata kuliah, dan salah satu dosen mata kuliah tersebut merekomendasikanku karena memang aku yang nilainya paling bagus. Di kantin dia pun tiba tiba mendekatiku, dia meminta ijin untuk duduk di sebelahku dan meminta tolong kepadaku untuk mengajari mata kuliah itu. aku tidak bisa berkonsentrasi, wanginya membuat pikiranku melayang layang, belum lagi kemeja pas badan berkancing rendah itu membuat mataku berusaha untuk mencuri curi kesempatan. Baru setengah jalan, rupanya ia sudah harus masuk untuk mata kuliah lainnya, karena terburu buru ia pun meminta nomor hp-ku untuk membicarakan kelanjutan tentang mata kuliah tersebut.
Sampai malam hari kutunggu tunggu kontak dari dia, bodohnya aku, aku hanya memberikan nomor hp-ku dan tidak meminta nomor hp-nya. Namun pucuk dicinta ulam pun tiba, ada nomor yang tak dikenal menelephoneku, aku yakin itu pasti dia, dan ternyata memang benar. To the point dia langsung saja bertanya tanya tentang mata kuliah tersebut, namun sementara dia antusia bertanya tanya tentang mata kuliah, pikiranku begitu antusias berimajinasi desahan suara sexynya ketika aku bermain dengan memek adikku. Namun tiba tiba telephone terputus siaaalll, tapi ternyata sial itu berbuah untung yang jauh lebih besar, dia sms, katanya pulsanya habis, dan dia ingin bertemu langsung di cafe x, cafe paling ramai dikunjungi mahasiswa-mahasiswi kampusku. Waktu menunjukan 20.15.
Pukul 20.20 aku sampai di cafe, namun setengah jam kemudian dia tak kunjung tiba, lalu dia sms yang ternyata dia tidak bisa datang ke cafe, karena sedang menunggu maminya yang akan datang. Amsyong, gagal nih, eh namun ternyata aku belum selesai membaca smsnya, yang ternyata dia memintaku untuk datang saja kekosannya, kosan y, asoooooyyy... Pukul 20.30 aku sampai dikosannya, lalu disambut olehnya yang sudah mengenakan piyama yang tipis, benar benar membentuk lekukan lekukan tubuhnya, sedikit membentuk underwear yang dia pakai, mataku pun langsung tertuju pada selangkangannya, pada memek adikku.
Lalu kamipun berdiskusi tentang mata kuliah tersebut, yang mana pikirannya sibuk dengan mata kuliah tersebut, sementara pikiranku sibuk dengan memek adikku.